
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Functional
Based Manajgement (FBM)
Sistem
akuntansi manajemen berdasarkan fungsi atau FBM telah dikenal dari tahun
1900-an dan masih secara luas digunakan baik dalam sektor manufaktur maupun
jasa. Model umum untuk sistem akuntansi manajemen berdasarkan fungsional
ditunjukkan dalam gambar berikut ini. (Hansen Mowen, 2006:57)
Berdasarkan
gambar diatas dimensi vertikal menggambarkan bagaimana biaya di beban kan ke
objek biaya, seperti produk dan pelanggan. Sementara dimensi horizotal
memperhatikan bagaimana sistem mencoba untuk memperbaiki efisiensi operasional
dan pengendalian biaya. Elemen pusat atau jantung dari model FBM adalah fungsi,
fungsi-fungsi biasanya dikelompokkan dalam unit-unit organisasional seperti
depertemen-depertemen dan pabrik-pabrik, contoh teknik, kontrol, kualitas, dan
perakitan adalah fungsi-fungsi yang diatur dalam departemen-departemen.
Tinjauan biaya FBM dalam sistem
akuntansi FBM, biaya-biaya sumber daya dibebankan ke unit-unit fungsional dan
kemudian ke produk. Dalam pembebanan biaya, digunakan penelusuran langsung dan
penelusuran penggerak, akan tetapi dalam sistem FBM penelusuran penggerak hanya
menggunakan penggerak produksi (tingkat unit), pengukuran konsumsi sangat berkorelasi
dengan keluaran produksi. Jadi, produk unit atau penggerak yang saling
berkorelasi dengan unit yang di produksi, seperti jam kerja dari tenaga kerja
langsung, material langsung dan jam kerja mesin adalah hanya penggerak yang di
asumsikan penting.
Karena sistem FBM hanya menggunakan
penggerak yang berhubungan dengan sistem produksi untuk membebani biaya,
pendekatan pembebanan biaya ini dianggap sebagai pembiayaan berdasarkan
produksi atau fungsional (Functional Based Costing - FBC). Produksi atau
penggerak tingkat unit dimana FBC sering tergantung padanya adalah bukan satu
satunya penggerak yang menjelaskan hubungan sebab akibat. Penggerak selain dari
penggerak produksi yang menggambarkan hubungan sebab akibat dianggap sebagai
penggerak tingkat non unit.
Tujuan pembiayaan produk dari
pembiayaan berdasarkan funsional dapat dipenuhi dengan pembebanan biaya
produksi untuk persediaan dan harga pokok penjualan untuk tujuan pelaporan
keuangan eksternal. (Hansen, Mowen, 2006: 55-57)
Jadi, penulis berkesimpulan bahwa
sistem FBM merupakan sistem yang dianggap dan dinilai lebih baik daripada
sistem tradisional yang dahulu digunakan. Perkembangan teknlogi dan pengetahuan
menyebabkan semakin akuratnya sistem yang dimodifikasi oleh praktisi dan
akademisi.
B.
Activity
Based Management (ABM)
Sistem
akuntansi manajemen berdasarkan aktivitas atau ABM merupakan sistem yang lebih
baru. Sistim akuntansi manajemen berdasarkan aktivitas juga digunakan secara
luas dan manfaatnya adalah untuk peningkatan. Contoh sistem berdasarkan
aktivitas ditemukan dalam industri medis ( seperti, rumah sakit dan
laboratorium medis), industri keuangan (seperti bank, dan bursa saham),
industri transformasi (seperti, penerbangan dan kereta api), serta dalam semua
jenis manufaktur (seperti, perusahaan eloktronik dan mobil). (Gorisson, dkk,
2012:310)
elemen model ABM
adalah aktivitas, biaya dilacak untuk aktivitas dan kemudian ke produk.
Aktivitas-aktivitas denga tujuan umum dikelompokkan bersama satu bentuk proses,
sebagai contoh yaitu pembelian barang, penerimaan barang, dan pembayaran barang
yang diterima adalah aktivitas mayoritas yang menggambarkan proses pembelian
persediaan.
Dalam pembiayaan bedasarkan
aktivitas biaya dilacak untuk aktivitas dan kemudiaan produk. Jadi pembebanan
biaya berdasarkan aktivitas menekankan penelusuran melebihi dari alokasi dalam
kenyataannya, itu bisa dinamakan sebagai penelusuran yang intensif. Penggunaan
kedua penggerak unit dan non unit meningkatkan keakuratan pembebanan biaya,
mutu keseluruhan dan informasi biaya yang relevan. Sebagai contoh,
pertimbangkanlah pembebanan biaya aktivitas “bahan mentah bergerak dan sebagian
produk jadi dari satu point ke point lain dalam suatu pabrik”. (Hansen Mowen,
57)
C. Perbandingan
Sistem Manajemen Biaya Berdasarkan Fungsional dengan Manajemen Berdasarkan
Aktivitas
Berdasar
fungsional
|
Berdasarkan
aktivitas
|
1. Penggerak berdasarkan unit
2.
Intensif alokasi
3.
Pembiayaan produk sempit dan kaku’
4.
Fokus pada pengelolaan biaya
5.
Informasi aktivitas sedikit
6.
Maksimalisasi kinerja unit individual
7.
Penggunaan ukuran kinerja finansial
|
1. Penggerak berdasarkan
unit dan non unit
2. Intensif dalam
penelusuran
3. Pembiayaan produk luas
dan fleksibel
4. Fokus pada pengelolaan
aktivitas
5. Informasi aktivitas
terinci
6. Maksimalisasi kinerja
sistem meluas
7. Penggunaan baik ukuran
kinerja finansial maupun non finansial
|
Tabel 1. Perbandingan antara Sistim Manajemen Biaya Berdasarkan
Fungsional dan Aktivitas (Hansen Mowen, 59)
A. Activity
Based Costing (ABC)
Perhitungan
biaya berdasarkan aktivitas adalah metode perhitungan biaya yang dirancang
untuk menyediakan informasi biaya bagi manajer untuk keputusan strategis dan
keputusan lainnya sebagai pelengkap, bukan sebagai pengganti, sistem biaya yang
biasa dipakai perusahaan. Kebanyakan perusahaan yang menggunakan ABC memiliki
dua sistem biaya yaitu sistem biaya resmi yang disiapkan untuk pengambilan
keputusan internal dan untuk menjalankan aktivitas. hal ini dapat digunakan untuk memperoleh
keputusan yang secara potensial dapat mempengaruhi biaya tetap sebagaimana juga
pada biaya variabel . (Gorison, dkk, 2013:312)
Sistem
penentuan harga produk berbasis aktivitas (ABC) adalah sebuah sisitem yang
pertama kali menelusuri biaya ke aktivitas yang menyebabkan dibebankan produk. (
Krismiaji, 2002:123)
Activity
Based Costing System adalah suatu sistem akuntansi yang
terfokus pada aktivitas-aktivitas yang dilakukan untuk menghasilkan produk atau
jasa. (Riadi Budiman, 2012:19)
Sistem
penentuan biaya berbasis aktivitas (Activity Based Costing) menerapkan
dukungan pabrik (misalnya overhead pabrik) biaya untuk output untuk dasar
kegiatan yang dilakukan untuk setiap produk yang dihasilkan. Artinya, ABC
mencoba untuk menentukan biaya dukungan manufaktur ke produk berdasarkan
tuntutan sumber daya atau konsumsi sumber daya untuk masing-masing output.
Untuk mencapai hal ini sistem ABC menggunakan seperangkat langkah-langkah
kegiatan yang lebih luas, baik terkait volume dan terkait non volume,
dalam proses alokasi biaya. (Adward, dkk :349)
Pendekatan
berdasarkan aktivitas telah muncul dalam lingkungan dunia bisnis akhir-akhir ini
karena menggunakan biaya pul yang lebih banyak dan pengukuran aktivitas yang
lebih unuk untuk dapat memahami lebih baik mengenai biaya pengaturan dan
menjaga keragaman produk. Aktivitas adalah kegiatan apapun yang mengakibatkan
komsumsi bahan baku overhead ada dua jenis ukuran aktivitas yaitu penggerak
transaksi (transaction driver) dan penggerak durasi ( duration driver).
(Gorison, dkk, 2013:315)
Penggunaan sistem
ABC menurut Penelitian Dian Indriana, dikarenakan Sistem akuntansi biaya
tradisional dikritik sebagai sistem yang tidak dapat menyajikan informasi yang
akurat tentang harga pokok produk. Ketidaktepatan informasi yang disajikan
tersebut menyebabkan ketidaktepatan manajemen dalam pengambilan keputusan.
Lebih luas lagi hal tersebut akan berakibat perusahaan antara lain:
- Tidak dapat membedakan mana langganan yang dapat menguntungkan
dan mana yang tidak
- Tidak mengeti mana produk yang dapat mendatangkan keuntungan mana
yang tidak
- Keliru dalam mengambil keputusan membuat atau membeli
- Memproduksi barang yang tidak dapat bersaing di pasar
- Merancang struktur organisasi yang tidak tepat.
Tetapi bukannya sistem tradisional tidak
mempunyai sisi yang baik, dalam beberapa hal kebaikan sistem tradisional masih
diperlukan, khususnya pada kondisi-kondisi tertentu. Sistem tradisional
mempunyai kekuatan pada kesederhanaan konsepnya. Pada kondisi dimana perusahaan
masih mempunyai upah langsung tinggi, produknya tidak begitu banyak dan tidak
begitu bervariasi baik dalam ukuran maupun volumenya, serta proses produksi
tidak kompleks, sistem tradisional masih menunjukkan keunggulan. Maksudnya
dengan cara yang sederhana, informasi yang dihasilkan oleh system tradisional
tidak akan berbeda sekali dengan system ABC yang agak sedikit rumit. (Jurnal
Penelitian, Vol. 5)
Desain
ABC difokuskan kepada kegiatan yaitu apa yang dilakukan oleh tenaga kerja dan
peralatan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Dari penelitian yang dilakukan,
diperoleh informasi bahwa pembebanan biaya overhead dengan cara tradisional tidak
mampu mengalokasikan biaya aktivitas yag akurat, berbeda dengan sistem ABC (Riadi
Budiman, 2012).
1.
Perbandingan
Penentuan Harga Pokok antara Metode ABC Dengan Konvensional
Klasifikas
aktivitas merupakan salah satu pembeda utama antara sistem konvensional dengan
sistem ABC. Dalam sistem konvensional permintaan atau konsumsi overhead
oleh setiap jenis produk hanya dijelaskan atas dasar unit based cost driver
saja. Dengan demikian, dalam sistem konvensional biaya dalam batch-level,
dan facility-level dikelompokkan sebagai biaya tetap yaitu biaya yang
tidak berubah jika volume produksi berubah. Sistem biaya berbasis unit
mengalokasikan biaya tetap kepada masing-masing produk dan kemudian menambahkan
biaya overhead variabel. Dari perspektif sistem ABC biaya variabel
ditelusuri secara tepat ke masing-masing produk. Biaya yang berhubungan dengan unit
based cost driver adalah biaya-biaya yang secara tradisional disebut dengan
biaya variabel. (Krismiaji, 133-134)
Terdapat tiga
karakteristik penting demi kesuksesan penerapan abc. Pertama inisiatif untuk
menerapkan ABC harus didukung oleh manajemen puncak. Karena kepemimpinan mereka
dapat memotifasi seluruh karyawan agar melakukan perbuhanan. Kedua manajemen
puncak harus memastikan bahwa data abc berhubungan bagaimana karyawan di
evaluasi dan diberi hadiah. Ketiga tim terdiri atas perwakilan dari berbagai
departemen untuk menyumbang ide dan pelaksanaan sistem ABC. (Gorison, dkk :16)
Akuntansi
menajemen berdasarkan aktivitas menawarkan keuntungan yang berarti, termasuk
mmperbaiki keakuratan pembiayaan produk, memperbaiki pengambilan keputusan,
meningkatkan perencanaan strategis, dan kemampuan yang lebih baik dalam
mengelola aktivitas. Selain itu, sistem berdasarkan aktivitas secar khusus sesuai
untuk mendukung saasaran perbaikan berkelanjutan tujuan yang penting bagi
perusahaan untuk bersaing secara global. (Hansen Mowen, 59)
Pembeda
|
Berbasis
Fungsional
|
Berbasis
Aktivitas
|
1.
Penggerak
2.
Sifat
3.
Pembedaan
biaya produk
4.
Fokus
5.
Sifat informasi
aktivitas
6.
Kinerja
7.
Penilain
kinerja
|
Berbasis
unit
Alokasi
Sempit
dan kaku
Mengelola
biaya
Jarang
menyebar
Maksimalkan
kinerja individu
Menggunakan
ukuran kinerja keuangan
|
Berbasis
unit dan non unit
Penelusuran
Luas
dan fleksibel
Mengelola
aktivitas
Detil
atau rinci
Maksimalkan
kinerja sistematik
Menggunakan
ukuran kinerja keuangan dan non keuangan
|
Tabel. 2 Ikhtisar
Perbandingan antara
Sistem Manajemen
Biaya Tradisional dan Kontemporer
(Hansen Mowen,
59)
Hansen Mowen dalam bukunya akuntansi manajerial
membandingkan biaya produk berdasarkan fungsi dan aktivitas. perbandingan ini menggambarkan pengaruh
penggunaan penggerak aktivitas secara jelas hanya berdasarkan unit untuk
membebankan biaya overhead. Pembebanan biaya berdasarkan aktivitas merefleksikan
pola konsumsi overhead secara lebih baik sehingga biaya lebih akurat. Dalam
lingkunagn yang memiliki keanekaragaman produk, abc menjanjikan keakuratan yang
lebih baik dan keputusan dibuat berdasarkan fakta yang benar. Selain itu sistem
abc menekankan penelurusan langsung dan penelusuran penggerak (hubungan sebab
akibat), sedangkan sistem biaya tradisional cendrung gencar dalam alokasi
(mengabaikan hubungan sebab akibat). (2009:174-175)
Berdasarkan hasil penelitian, bahwa Activity
Based Costing System berperan dalam mengukur dan mengevaluasi tingkat
pencapaian profitabilitas perusahaan, karena sistem aktivitas ini memiliki
tingkat keakuratan yang lebih baik dibadingkan dengan menggunakan metode
konvensional dalam meningkatkan profitabilitas pengambilan keputusan. (Mathius
Tandiontong, 2011)
Jadi,
penulis berkesimpulan bahwa penggunaan sisem ABC cendrung memiliki kelebihan
dan nilai ganda dibandingkan dengan sistem fungsional. Pembebanan biaya
didasarkan pada aktivitas yang digunakan oleh tenaga kerja dan peralatan usaha.
sehingga penentuan harga pokok produk lebih tepat.
DAFTAR PUSTAKA
Adward J Blocher, dkk. 2012. Manajemen Biaya
Penekanan Strategis. (Jakarta Salemba Empat)
Dian Indriana
Trilestari, Perkembangan Akuntansi Ditinjau Dari Perspektif Waktu. Solusi ISSN
1412-5331 Vol. 5 No. 2. Halaman 20
Elkha, Jurnal. Implementasi Metode Activity Based
Costing System dalam Besarnya tarif Jasa Rawat Inap. Vol. 4 No. 2 Oktober
2012
Garrison, dkk. 2013. Akuntansi Manajerial.
(Jakarta, Salemba Empat)
Krismiaji. 2002. Dasar-dasar Akuntansi
Manajemen. (Yogjakarta: AMP YKPN)
Mowen, Hansen. 2006. Akuntansi
Manajerial. (Jakarta : Salemba Empat)

Tandiontong, Mathius. Jurnal Peranan Activity Based Costing System dalam
Perhitungan Harga Pokok terhadap Peningkatan Probabilitas Perusahaan. No. 05
Tahun ke-2 Mei-Agustus 2011
D.
AFM
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
B.
Saran
trimakasih
BalasHapus